Gropyok Tikus

Ketika aku masih duduk di bangku sekolah dasar kelas 3, aku dan kawan-kawanku mendapat tugas yang setelah sekarang ini kufikirkan adalah tugas yang sangat luar biasa aneh, tapi menyenangkan. Hari itu kami semua diwajibkan memakai baju olahraga. Kupikir kami akan dipertemukan dengan siswa sekolah lain untuk uji tanding tim sepak bola dan aku beserta teman-teman lain disuruh jadi pendukung. Maklum, waktu itu tim sepak bola sekolahku adalah tim juara sekecamatan Pilangkenceng. Akupun bersemangat, seperti teman-temanku sekelas yang lain ikut-ikut saja. Bagi kami, yang penting keluar dari lingkungan sekolah, ibarat mendapatkan tour gratis kecil-kecilan. Semangat buta seperti anak kecil bertepuk tangan ketika nasi yang ditanak sudah matang. Sego mateng keplok-keplok. Chauvinisme level kerdil…

Guru olahraga kami memberi komando untuk berangkat menuju tempat tujuan. Sesaat aku masih berpikir bahwa kami akan menuju ke lapangan. Rutenya memang sama dengan jalan yang selama ini kami lalui menuju lapangan bola desa sebelah. Hingga setelah sampai di lapangan tidak kulihat siswa siswi SD lainnya. Pak Guru olahraga juga tidak mengkomando untuk masuk lapangan, malah terus melaju menyusuri jalan setapak pinggir lapangan menuju sawah. Sebelum sampai kami menyusuri pematang-pematang sawah, pak guru memberhentikan langkah kami. Kami heran ketika disuruh mengambil bilah-bilah bambu satu per satu yang ternyata sudah disiapkan. Setiap anak laki-laki harus membawa sebilah. Perintah yang aneh juga karena olahraga anggar juga tidak eksis dalam lingkungan proletar seperti lingkungan kami. Yang ada adalah perang-perangan dan itu sudah ditunjukkan oleh beberapa kawanku setelah masing-masing mendapat sebilah bambu.

Tiba-tiba Pak Guru mengumpulkan kami kembali dalam barisan dan memberi penjelasan maksud kami digiring ke sawah.”Cah, dino iki kabeh podho melu gropyok tikus. Kabeh kudu melu mbantu wong tani mateni tikus supoyo gak mangani pari”, ungkapnya. ”Hah, gropyok tikus?!”…Aku, seperti kawan-kawanku lain seperti mendapat kegembiraan yang tak terkira. Bahkan begitu riang karena ilmu babat alas ngawur yang kami pelajari secara otodidak hampir setiap hari di sekolah dalam rangka ”perang-perangan” ketika ngaso akhirnya terpakai juga. Bahkan pula, kami mempunyai sasaran yang sah untuk dihabisi. Betapa kerennya hari itu.

”Serbuuuuuuu…..!”

Bahkan sebelum Pak Guru memberi aba-aba untuk memulai gropyok, kawan-kawanku sudah berhamburan lari melewati pematang-pematang sawah. Kawan-kawanku yang perempuan ada yang ikut-ikutan, tapi ada juga yang takut bertemu binatang pengerat itu. Mereka yang takut disuruh membawakan ceret berisi air. Sedangkan kawan-kawanku laki-lakiku, waduh, tidak bisa dikendalikan lagi. Meraka beringas. Setiap kali ada teriakan ”Hyaaattttttt…..!” dari salah satu kawan, yang lain ikut-ikut nimbrung sambil mengayunkan bilah bambunya. Ketika Manto yang bertubuh kekar mendapatkan satu korban tikus berukuran besar, yang lain semakin bersemangat tidak mau kalah. Bambang, Ciput, Margi, Dwi, Joko, Supri, Damin, dan yang lain-lainnya semakin anarkis bila ada suara krusak krusuk pertanda ada hewan jahanam pemakan padi Pak Tani. Aku sendiri hanya berhasil membunuh seekor tikus.

Hari semakin siang, panas matahari juga semakin terik. Sudah lebih dari dua kilometer kami berjalan. Sudah tak terhitung jumlah tikus yang kami binasakan. Ternyata kavaleri cilik ini mampu diandalkan. Semua tampak telah basah dengan peluh hingga seragam olahraga kami sudah basah. Lengket dengan kulit. Tapi dasar kawan-kawanku, semua masih bersemangat. Tampaknya mereka telah berubah status dari kawanan kecil yang lugu menjadi suku barbar yang mengerikan bagi kawanan hama langu itu. Mereka yang jahil menggoda gadis-gadis pembawa air (kalau boleh disebut gadis) dengan menunjukkan tikus-tikus hasil sabetan ”kebiadaban” mereka. Mereka yang digoda biasanya mereka yang cantik. Ah, romantisme kaum bonsai.

Akhirnya perjalanan perang kami telah sampai ke ujung pematang di tepi jalan raya. Kami memang tidak mampu menggarap semua lahan, tapi cukup pantas dibanggakan karena kami mampu menghabisi ratusan tikus. Pak Guru mengijinkan kami beristirahat sejenak dan minum air. Senyum kepuasan menyelimuti wajah-wajah kami yang tampaknya tidak sadar telah melanggar hak asasi hewan.

Sepertinya ada yang aneh. Aku coba mengamati kembali petak-petak sawah yang telah kami lalui. Ya, benar. Ada yang tidak beres. Ternyata saking semangatnya kami tidak saja menyabet sasaran si tikus edan. Kami juga turut andil membabat batang-batang padi hingga tumbang. Pak Guru yang juga baru menyadari mengernyitkan dahi tanda takjub negatif. Seketika itu juga aku dan kawan-kawan madul ke Pak Guru.

”Muhajir itu tadi Pak!”

”Iya Pak, itu tadi gaweane Muhajir!”

”Muhajir mesti ngoten niku Pak!”

Mereka semua beramai-ramai menunjuk kawanku, Muhajir, Sang Diskreditor Abadi bagi kami. Pokoke sing elek-elek wenehno Muhajir ae. Setuju!

Dasar pasukan kecil Raja Tega!

Kawan, cerita itu sudah sangat lama meskipun sangat tidak mungkin bagiku untuk melupakannya. Kini setelah belasan tahun berlalu tikus memang masih menjadi musuh para petani. Tapi ternyata ada tikus-tikus lain yang lebih berbahaya. Mereka tak cuma makan gabah, tapi lebih ironis mereka makan triliunan rupiah uang rakyat. Mereka tidak bersembunyi di antara bonggol-bonggol batang padi, tapi mereka hidup mewah di luar negeri. Mereka hidup mewah di dalam penjara-penjara yang mereka buat sendiri dengan uang haram. Mereka adalah kumpulan orang-orang serakah yang pantas shahih digropyok.

Aku punya usul. Bagaimana kalau kegiatan gropyok tikus yang dulu kulakukan bersama teman-teman dibudayakan lagi saat ini. Anak-anak SD harus diajak berwisata ke sawah-sawah mumpung tikus juga masih banyak. Kita doktrinkan kepada mereka sejak kecil bahwa ketika mereka menghabisi tikus berarti mereka telah belajar menghabisi koruptor yang harus mereka tumpas habis ketika dewasa nantinya.

Kalau tikus di sawah sudah jarang atau bahkan tidak ada, lebih gampang lagi! Belikan saja beberapa tikus curut. Sebelum disebar, tempeli tikus-tikus itu dengan nama-nama tersangka koruptor BLBI, koruptor migas, anggota DPR yang tidak pro rakyat, orang terkaya tapi busuk hatinya, dan anak waris orba yang jadi pangeran-pangeran kecil tukang tertawa di atas tangisan Ibu Pertiwi. Sekali lagi, wajib huklumnya ketika anak-anak SD akan berangkat ”perang”, kita doktrin bahwa yang mereka hadapai tidak hanya curut langu, tapi para koruptor yang membuat kita melarat. Agar jangan Muhajir lagi yang didiskreditkan. Mereka, koruptor wajib digropyok!

Emprit Kaji

Malang, 3 Juni 2008

Tinggalkan Balasan