Bapak Pucung,
Cangkemmu madhep manduwur,
Sabamu ning sendhang,
Pencokanmu lambung kering,
Prapteng wisma si pucung mutah guwoyo
Itulah salah satu tembang Pucung versi Jun. Bagi Anda yang belum tahu, pucung adalah kumpulan tembang-tembang Jawa yang terangkum dalam Tembang Macapat. Jun sendiri artinya bejana yang biasanya digunakan untuk mengambil air di sendang. Selain Pucung, Tembang Macapat sendiri juga dibagi dalam Asmaradhana, Kinanti, Maskumambang, dan lainnya. Semua jenis Tembang Macapat memiliki aturan-aturan dalam hal jumlah suku kata tiap-tiap larik, jumlah larik tiap-tiap bait, dan aturan vokal tiap-tiap akhiran larik. Membuat tembangnya juga tidak boleh asal-asalan karena setiap tembang berisi analogi-analogi kehidupan. Begitu kaya akan khasanah budaya. Aku sendiri merasa bangga karena pernah menembang Pucung versi Jun di depan kelas. Di kelasku dulu, menembang tidak dilakukan pada mata pelajaran kerajinan tangan dan kesenian, tetapi di pelajaran bahasa daerah. Pelajaran bahasa daerah terdapat dalam satuan pelajaran yang diberi nama muatan lokal yang hanya diajarkan di bangku SD dan SMP.
Tak hanya tembang-tembang jawa saja yang sering kudengar, tak ketinggalan pula nyanyian-nyanyian anak-anak kota. Mereka sering tampil di kotak penayang yang mirip kaleng krupuk. Kalau kaleng krupuk, yang tampak dari sisi permukaannya yang bening ya krupuk. Tapi kalau kotak ini, yang tampak adalah anak-anak kecil seusiaku yang tampan, cantik, imut, sampai yang berwajah adenoid. Mereka bernyanyi riang gembira. Di sisi kiri bawah biasanya tertulis nama mereka yang bernyanyi dan nama Papa T. Bob. Setidaknya Papa T. Bob adalah nama yang paling aku kenal sebagai pencipta lagu anak-anak. Penyanyi cilik yang paling aku idolakan adalah Chikita Meidi. Tidak hanya suaranya yang bagus, tapi juga lincah meskipun mungil. Lagu yang paling hebat dia nyanyikan adalah ”Kampuang Nan Jauh di Mato”. Meskipun Aku bukan dari Minang, Aku hafal sebagian liriknya. Kira-kira begini penggalannya.
-
Kampuang nan jauh di mato
Gunuang Sansai Baku Liliang
Takana Jo Kawan, Kawan Nan Lamo
Sangkek Basu Liang SuliangPanduduknya nan elok nan
Suko Bagotong Royong
Kok susah samo samo diraso
Den Takana Jo KampuangTakana Jo Kampuang
Induk Ayah Adik Sadonyo
Raso Mangimbau Ngimbau Den Pulang
Den Takana Jo Kampuang
Tak bisa disangkal, muatan lokal dan Chikita Meidi memperkaya jiwa seniku. Aku mengidolakan Chiqita bahkan sampai pasca akil baligh karena lagunya itu.
Dahulu, begitu mudahnya mengenal budaya bangsa ini dengan kehadiran muatan lokal dan si imut Meidy itu. Sekali lagi, dahulu. Sekarang, tidak lagi. Tidak lagi karena memang tidak ada muatan lokal di bangku kuliah. Tidak lagi karena Chikita Meidi-Chikita Meidi yang lain seakan-akan tidak lahir sekarang ini. Coba Aku tanya, tembang daerah apa yang paling kau hafal dan tahu maknanya? Siapa penyanyi cilik yang paling terkenal saat ini? (jangan sebut Enno Lerian atau Sherina Munaf karena mereka telah lewat masa puber). Lalu, lagu apa yang dinyanyikan oleh penyanyi cilik saat ini? Aku menyangsikan Anda hafal lagu daerah. Penyanyi cilik yang terkenal saat ini juga bukanlah hasil dari rumah produksi musik betulan, tapi dari adu banyak SMS. Dan yang paling memprihatinkan, mereka tidak sekalipun mendendangkan lagu-lagu anak kecil. Mereka sok keren menyanyikan lagu-lagu orang dewasa macam Peter Pan, Seurieus, Ada Band, Dewa, sampai menjiplak gaya tante genitnya Mulan Jameela. Seperti itulah kader-kader bangsa yang baru itu dididik. Benar-benar disorientasi kepribadian! Pemaksaan hakikat pendidikan seni! Salah urus! Anehnya, mereka justru didorong orang tua, dipuji para juri, dan dan disoraki penonton untuk menghayati lagu-lagu bertema cinta lawan jenis, putus hubungan, perselingkuhan, atau pengkhianatan. Kalau bukan lagu-lagu semacam itu yang dinyayikan, ”gak keren!’, ujung-ujungnya suplai SMS yang masuk akan minim dan mereka akan tereliminasi dari perlombaan. Benar-benar memprihatinkan generasi ini.
Kawanku, saudaraku, beginikah cara mendidik anak-anak dalam memahami arti seni musik dan seni suara? Bahkan balita gelandangan pun menyanyikan munajat cintanya dewa 19 seolah-olah kalau tidak menyanyi lagu-lagu macam itu para penumpang tak akan iba dan mengulurkan receh. Mereka semua telah dibajak oleh orang-orang dewasa paling oportunis. Mereka dipaksa untuk memahami arti cinta dengan orientasi yang sangat jauh berbeda daripada cinta orang tua atau cinta antar kawan. Mereka dipaksa untuk puber lebih awal. Mereka tidak bisa menyanyikan lagu anak-anak bukan karena tak bisa. Tapi karena orang-orang macam Papa T. Bob atau Ibu Kasur sudah tidak ada lagi.
Bagi Anda yang mengaku musisi, cobalah menciptakan lagu-lagu yang pas untuk anak kecil. Ciptakan rima-rima persahabatan. Dorong mereka untuk mengerti seni secara proporsional. Dan bagi Anda yang mengaku peduli, jangan pernah mendukung acara-acara yang membohongi anak kecil. Jangan pernah mengirim SMS untuk mereka. Matikan acara-acara semacam itu sewaktu tayang. Mari ikut mempersiapkan generasi bangsa yang tahu akan kekayaan khasanah seni budaya.
Emprit Kaji, Malang, 5 Juni 2008
DIarsipkan di bawah: Memorabilia



i am with you..
setuju bro
I need full lyric of macapat. all song that include.
please if you have, may you can share for me in my email.
thanks and best regards.
Eryq
Hu.. situs ga lengkap!!!
Skalian arti’a donk!!