Apa bahasa jawanya sepeda motor? Kami menyebutnya montor. Entah benar atau salah kaprah, kami orang desa menyebutnya montor. Sebutan montor tidak hanya berlaku untuk sepeda motor saja, tetapi juga untuk mobil roda empat. Kalau motornya sejenis jeep, ya kami sebut montor jeep, kalu sejenis pick up, kami jamak menyebutnya montor pikep, kalau pesawat terbang, kami menyebutnya montor mabur. Khusus yang terakhir, ketika terlihat terbang di atas sana, kami selalu teriaki, “montor mabuuuuur, njaluk duwiteeeeee…montor mabuuuuur…njaluk duwiteeeee!”. Seketika itu juga kami anak-anak desa berubah jadi kaum utopis tolol.
Nah, dahulu terdapat jenis montor yang paling ditakuti anak-anak kecil seperti aku dan teman-temanku. Bukan montor tronton yang besar-besar, bukan pula montor trail yang sangar. Montor yang paling kami jauhi kala itu adalah ”montor gondholan”.
Begini ceritanya…
Ketika kami kecil, untuk menghindarkan kami bermain jauh-jauh dari rumah atau bermain jauh sampai menyeberang jalan raya, maka kami ditakut-takuti dengan sosok penculik anak-anak. Mereka diperangaikan sebagai orang-orang yang tinggi besar, berwajah kejam, dan selalu membawa kendaraan baik itu sepeda motor ataupun mobil yang lazim disebut montor gondholan. Montor ya motor. Baik itu sepeda motor ataupun mobil. Gondholan artinya yang suka menggondhol orang terutama anak-anak. Seringkali orang tua kami menceritakan bahwa di suatu daerah, montor gondholan telah menculik anak-anak dan setelah itu mereka tidak pulang lagi. Biasanya orang-orang montor gondholan mengiming-ngimingi sejumlah uang untuk membujuk anak-anak padahal maksudnya mau menculik. Kami ya percaya-percaya saja cerita semacam itu. Cerita montor gondholan ibaratnya doktrin. Maka dari itu, untuk mencegah kami bermain pergi jauh, orang tua cukup mengatakan, ”heh, neng kono enek montor gondholan. Ojo dolan adoh-adoh. Ojo dolan cedhak pasar. Ojo dolan neng pinggir ratan gedhe lho ya!”. Kata-kata itu sudah cukup memaksa kami kawanan sontoloyo nakal untuk bermain kelereng, layangan, atau adu lempar karet gelang di sekeliling rumah saja.
Pernah pada suatu saat aku dan teman-temanku ke pasar di siang bolong sehabis sekolah untuk golek temon. Ketika akan pulang, kami ditemui seseorang yang mengulurkan uang Rp. 100,-. Itu jumlah uang yang besar bagi kami. Tapi kami takut menerimanya dan mengambil seribu langkah sambil berteriak, “montor gondholaaaan…montor gondholaaaaan…awaaas! Sesampainya di rumah kami segera menceritakan peristiwa itu kepada orang tua kami dan teman-teman kami. Oleh orang tuaku, kami malah disalahkan karena telah bermain jauh dari rumah tanpa sepengetahuan mereka. Dalam beberapa minggu kemudian kami tidak pernah lagi bermain di pasar karena takut diculik.
Sampai sekarang Aku tidak pernah tahu yang sebenarnya, ada atau tidak montor gondholan yang suka menculik itu. Aku tidak tahu apakah para penculik itu sering ada di lingkunganku atau montor gondholan hanya legenda abstrak yang didengungkan ke kuping kami anak-anak ingusan nakal. Tapi bagiku, yang penting cerita itu masih kuingat sampai sekarang.
Mungkin, montor gondholan memang ada ketika aku kecil. Tapi misalkan benar-benar ada, motif apa yang melatarbelakangi motor gondholan ingin menculik kami juga tidak pernah diceritakan. Beda dengan yang sekarang ini kita lihat sehari-hari di kota-kota. Banyak sekali anak-anak kecil terenggut masa kecilnya, masa bermainnya, dan tentu saja masa-masa mereka menuntut ilmu. Mungkin mereka memang bukan korban penculikan montor gondholan untuk dipekerjakan di lampu merah atau tempat pembuangan sampah. Tapi gambaran bahwa mereka dimanfaatkan oleh orang-orang tua serakah sungguh jelas. Mereka mengamen, memulung sampah, meminta-minta, digendong untuk menjadi penarik simpati dan iba, bahkan mengedarkan barang haram yang sebagian besar hasilnya dinikmati oleh orang-orang serakah tadi. Mereka menjadi pemeras yang lebih durjana karena sekaligus mengikis habis tunas-tunas harapan bangsa.
Oleh sebab itu kawan, harus ada yang memperhatikan nasib anak kecil. Kalaupun harus bekerja, tidak selayaknya mereka dimanfatkan untuk kepentingan yang salah. Bagaimanapun juga mereka adalah anak bangsa. Mereka butuh bimbingan, didikan, dan perlindungan. Oleh karena itu, stop neomontorgondholanisme!
Emprit Kaji
Malang, 7 Juni 2008
DIarsipkan di bawah: Memorabilia


