Sehari Berteman Sang Coban

Taji bagaikan puncak yang dikelilingi air terjun. Beberapa air terjun besar dan kecil bahkan dapat dilihat dari jalan-jalan setapak. Penduduk setempat menyebutnya coban yang dalam bahasa Jawa berarti air terjun.Di antara perdu-perdu yang diam, coban-coban kecil yang bergemericik seakan-akan menyeruak dalam kebekuan, padahal dia sendiri juga dingin. Beberapa coban yang ada di pelosok hutan bahkan belum memiliki nama. Bila ditanyakan, antara penduduk yang satu dan yang lain menyebutkan nama yang berbeda-beda. Mungkin karena mereka sendiri ada yang belum pernah datang ke coban itu.

Hari itu kami memiliki kesempatan langka mengunjungi sebuah coban paling pelosok beramai-ramai. Diantar tukang kebun sekolah Umbut Legi sang petualang. Ia berjalan paling depan seraya melakukan ritual babat alas. Entah sudah berapa batang perdu yang dibabatnya lantaran mengganggu perjalanan kami. Ia juga yang membuat jalanan berundak ketika titian mulai curam. Tampaknya orang ini benar-benar bisa diandalkan menjadi pemandu.

Sejak awal masing-masing dari kami membawa sebilah tongkat penumpu badan. Perjalanan begitu merepotkan karena rute yang ruwet dan naik turun. Jalan yang licin membuat beberapa orang jatuh tergelincir. Ada yang terguling juga karena jalan terlalu curam. Beberapa kali juga harus menyeberang sungai yang meskipun jernih ternyata menjadi tempat sembunyi lintah. Kaki seorang teman berdarah karena dihisap binatang penghisap itu.

Perjalanan masih saja jauh meskipun uap-uap air terjun telah tampak mengkabut di balik pohon-pohon bambu. Deru suaranya yang terdengar semakin keras belum juga membawa kami menemui sang coban. Kami juga melewati sekumpulan orang-orang arang. Mereka sedang membakar bonggol-bonggol bambu.

Air sungai mulai berdesir-desir. Alirannya lebih tampak berpendar daripada mengalir. Kabut yang kami lihat tadi sudah tampak menghilang seiring cahaya matahari yang mulai menelusup di sela-sela dahan pinus. Di depan sana, sebidang rumput tampak menghijau seakan-akan menjadi halaman rumah sang coban. Kalau bisa berkata, mungkin ia sedang mengucapkan selamat datang. Bebatuan yang tepat di bawah jatuhan air terlihat tergerus oleh waktu, lebih tampak sebagai kolam. Air yang jatuh begitu keras membentur bebatuan tiada henti, ada juga yang hanya merambat malas di tebing. Semua menciptakan keindahan yang luar biasa. Air dingin yang sejak tadi terasa tak mampu memaksaku untuk tidak naik ke atas sebuah batu, merasakan keindahan coban ini, menjadi bagian coban ini. Seketika lelah tak lagi terasa, karena sang coban menyambut kami dengan begitu santun meskipun baru pertama kali bertemu.Aahhh…hari ini aku berkawan dengan coban.(bersambung)

Satu Tanggapan

  1. hua..ayo ksana lagi, rame2..
    kapan yo..

Tinggalkan Balasan